Omong Kosong Kebanyakan Keluarga Di Indonesia
Latar Belakang
Kali ini gw mau bahas mengenai omong kosong besar yang kebanyakan di adopsi oleh keluarga di Indonesia, pola pikir yang cacat menghasilkan generasi brain rot dan kemudian generasi rusak ini berkembang biak sehingga menghasilkan generasi rusak lebih banyak lagi. Mulai dari masalah ekonomi, masalah pola asuh, masalah latar belakang orang tua, dan hal busuk lainnya yang terjadi real di masyarakat dan kebanyakan dari mereka hidup dengan masalah ini hari demi hari.
Disclaimer dulu, gw bukan pakar apapun, tulisan ini murni berasal dari sudut pandang gw pribadi. Tulisan gw tidak untuk menjadi acuan apapun dalam menentukan standard hidup keluarga yang baik atau buruk, karena gw sendiri pun bukan penulis, bukan pujangga. Jika pembaca melihat tulisan ini ada benarnya dan ada yang bisa di petik dari sini maka gunakanlah sebaik mungkin dan sebagaimana pembaca pandang apa yang baik dan tidak, namun kalau pembaca tidak menemukan apapun yang menguntungkan dari sini, anda bebas untuk menutup browser anda dan tetap melanjutkan hidup sebagaimana biasanya. Karena gw sendiri pun bukan berasal dari keluarga yang cemara, tapi setidaknya gw tahu apa itu cinta dan kasih sayang orang tua.
1. Mokondo Hina Yang Berjaya
Gw mau mulai dari sini karena menurut gw kebanyakan asalnya dari sini, dari si cowo, menurut gw ya, asli, value cowo itu adalah bekerja, effort, jerih payah yang kemudian di tukar menjadi kasih sayang oleh sekelilingnya dan orang-orang yang di cintainya. Karena tanpa itu tidak akan mungkin seorang cowo mendapatkan cinta, bagaimana caramu mencintai jika kasihmu tidak makan, tidak punya jaminan hidup. Tanpa effort dan hasil cowo tidak berhak di cintai, tidak berhak di sayang. Cowo dituntut bisa lead, menyediakan lingkungan aman dan nyaman untuk pasangan dan keturunannya. Man literally have default build for this sole reason.
Yang jadi masalah sekarang 2025 banyak cowo mokondo ( Modal Kon**l Doang ) dan bisa menikah, di tambah dengan cewe yang mengerti value apa yang harus di miliki seorang cowo untuk bisa meminangnya. Modal cinta doang lalu lanjut ke pelaminan, ia syukur kalau ternyata dia memang seorang cowo punya value, meskipun tidak punya modal tapi dia punya pola pikir yang baik, kemampuan yang cakap, nalar yang matang, dan emosi yang stabil. Tinggal menunggu kondisi semakin baik jadinya karena memang orangnya punya value.
Tapi taruhan sebesar itu amat berbahaya untuk dicoba coba, kalau ternyata dia adalah cowo yang tidak punya value ? tidak mau kerja, temprament, kasar, malas, alamat menderita seumur hidup. Dan dari sini lah masalah utamanya, kemudian cowo mokondo yang berhasil menikah modal omong kosong ini beranak pinak.
2. Hasil Dari Mokondo Yang Beranak Pinak
Mokondo yang berhasil beranak pinak ini pun kemudian menghasilkan generasi yang berantakan. Anak-anak kesulitan tumbuh besar semestinya, selayaknya hidup yang layak pun tidak pernah bisa di rasakan akibat dari mokondo tidak tahu diri. Penghasilan pas-pas an pun harus di bagi untuk berapa mulut. Hitung saja sendiri 100 ribu untuk makan di bagi untuk 3 orang dengan 5 orang, dari segi gizi dan asupan bisa di nilai sendiri hasilnya.
Kemudian anak-anak yang lahir dari mokondo ini pun perlahan-lahan tumbuh besar dengan banyak goresan hidup di mentalnya. Tumbuh di lingkungan yang menuntut mereka untuk survive di usia dini, usia yang seharusnya di pakai untuk tumbuh kembang dan menyerap informasi sebanyak mungkin agar menjadi modal dia kelak dewasa nanti, membentuk karakter dia tetapi sayangnya harus di isi dengan sulitnya mencari uang. Di adu oleh lingkungan yang keras karena keluarga mokondo bisa di pastikan tidak akan tinggal di lingkungan yang sehat, di kelilingi oleh orang yang nalar dan pola pikirnya bagus.
Si anak pun kemudian tumbuh bersama luka akibat hal-hal buruk yang dia lihat di sekelilingnya, dari apa yang dia dengar, dari pertengkaran orang tua, masalah ekonomi dan banyak hal lainnya.
3. Tumbuh Menjadi Generasi Sandwich
Anak yang jadi korban ini pun kemudian menjadi besar dengan watak yang keras, hasil bertarung dengan kerasnya hidup sedari dini, akibat tumbuh besar di lingkungan yang keras. Ketika sudah bisa mencari uang pun hanya bisa bekerja dengan upah yang minim apalagi di Indonesia. Penghasilan yang baik jauh dari genggamannya karena tidak bisa menjangkau fasilitas pendidikan yang cukup untuk mempunyai skill dan pengetahuan yang mendukung. Dengan penghasilan minim tersebut juga harus di pakai untuk membantu menghidupi rumah, hal yang sudah di lakukan sedari dini kini tetap lanjut ketika dewasa.
Masalahnya kemudian berlanjut akibat dari efek generasi sandwich ini si anak kesulitan untuk mengembangkan skill, sulit mendapatkan perkerjaan yang lebih baik karena tidak memiliki resource untuk berkembang. Kebanyakan resource yang dimiliki di lempar ke generasi sebelum dia ( Orang Tua ) sehingga untuk genderasi mendatang atau masa depan alokasi resourcenya sedikit. Di tambah lagi cenderung tidak paham keuangan, masalah gali lobang tutup lobang hutang setiap bulannya agar tetap bisa mengirim ke rumah.
Hal ini terus berlanjut bertahun-tahun, tanpa tabungan, tanpa aset, tanpa modal apapun. Hidup dengan taruhan nyawa setiap harinya karena bulan demi bulan gaji habis begitu saja. Jika ada hal yang di luar kendali seperti sakit, kecelakaan, atau yang sifatnya force majeur di luar kendali harus di tutup dengan hutang, karena memang tidak punya simpanan apa-apa untuk di pakai ketika urgent. Kondisi yang sulit seperti ini pun mengarahkan ke hal-hal berbau kriminal.
4. Melanjutkan Warisan Mokondo
Setelah itu selama bertahun-tahun struggle, dengan semua kesulitan yang ada pasti si anak akan menikah. Dan biasanya hasilnya sudah bisa di tebak, menikah dengan hutang, dan tumpukan hutang, serta pola pikir atau mindset yang berantakan. Sampai di sini kita bisa melihat pola yang berulang dari awal tadi. Bedanya mungkin sampai cerai karena tidak tahan punya pasangan yang tidak perform sebagai suami. Menjadi single parents dan si cewe biasanya kerja apapun untuk bisa menghidupi anaknya, biasanya menjadi LC, Simpanan, Selingkuhan atau hal lainnya yang mendegradasi value seorang cewe dengan tujuan agar bisa survive. Hasil fatal dari seorang cowo yang tidak mampu di nafkah, tidak mampu di effort, tidak mampu lead. Bayangkan menikah dengan modal hutang, alih-alih setelah menikah memikirkan honey moon dan bercinta, tetapi tidak, malah sibuk dengan cicilan dan hutang yang harus di lunasi, lalu kemudian menjadi sumber pertengkaran paling sering di rumah. Akibatnya cowo tidak suka pulang kerumah dan lebih memilih berlama-lama diluar atau bersama cewe lain.
Di Skenario setan ini siklus setan ini diputar ulang, dan kemudian menghasilkan generasi mokondo selanjutnya. Mulai dari generasi yang berantakan, akses pendidikan yang susah, pola pikir yang sungsang, dan lainnya.
5. Jalan Keluar
Tidak semua yang terjebak di lingkaran ini terjebak selamanya, banyak juga yang berhasil lepas tetapi memang tidak mudah. Bukan tidak mungkin untuk memutus rantai ini, tetapi effort nya seringkali harus berlipat-lipat dan banyak yang tumbang di bagian ini. Gw berikan beberapa saran yang mungkin bisa di pakai. Cara ini adalah cara yang gw pakai untuk memutus rantai omong kosong ini dan mungkin lu yang baca juga bisa pakai.
- Stop Pengeluaran Yang Tidak Perlu.
Di bagian ini lu harus bisa kendalikan diri, hal-hal yang tidak perlu dan lu tetap bisa hidup tanpa hal ini harus di stop. Maksudnya apa ? misal ya seperti rokok, nongkrong, dan hal konsumtif lainnya yang ga guna. Yang kalau tidak lu lakukan pun lu tidak akan mati.
- Belajar Money Management
Ini skill awal yang harus lu kuasain, dari sini lu bakal bisa lihat pengeluaran apa yang bisa di stop, di simpan, dan di alokasikan ke hal lain. Gw dulu belajar ini secara online, tanya-tanya, dan cari refrensi, sekarang sih udah gampang, lu bisa tanya CHATGPT. Dari situ nanti lu bisa lihat berapa sebenarnya uang yang bisa di putar, di investasikan, di tabung dan lainnya. Belajar saham dan investasi jangka panjang, jauhin trading atau apalah itu yang sifatnya seperti judi.
- Alokasi Uang Yang Sudah di Atur
Setelah lu tahu berapa duit lu, aset lu, dan lainnya, baru belajar alokasi. Mungkin lu tetap kirim ke rumah, tapi kirim lah sewajarnya, jangan sampai lu kirim tapi lu sendiri mati pelan-pelan. Alokasi kan untuk tabungan, investasi, dan dana darurat. Lakukan hal ini setiap bulan, meskipun itu 100 rb rupiah atau 50 rb, tetap lakukan saja ! nanti seiring waktu lu bisa sesuaikan dengan pemasukan lu yang bertambah.
- Kalau Tidak Cukup Bagaimana ?
Kalau tau kurang ya cari lebihnya, ga usah mikir capek dan lain nya, lu lebih bagus capek di masa muda di banding cape di umur tua. Selagi muda lu recovery lebih cepat, nahan lapar lebih mampu, manfaat kan darah muda mu ! Karena nanti kalau sudah tua, mulai umur 30 an aja, lu nahan lapar aja ga akan kuat, ketika lu sakit, recovery lu juga tidak seperti masih muda. Begadang aja kuat kok kalau masih muda.
- Reinvestasi ke Diri Sendiri
Ambil kelas, bayar course untuk tambah skill lu, belajar coding, gambar atau hal lainnya yang bisa jadi skill lu nanti sekitar 5 tahun ke depan. Sembari struggle lu tahanin tu kembangin skill yang sekiranya laku untuk waktu yang lama. Gw sendiri investasi di Videography dan Photography untuk gw tekunin nanti. Dari situ lu akan berkembang perlahan-lahan dan ketemu orang-orang yang 1 frekuensi.
- Belajar Tega !
Tidak semua permintaan harus di turutin, belajar tega, tolong diri lu dulu baru tolong orang lain. Orang mungkin bilang egois dan lain sebagainya, cuekin aja. Selama tidak ada kontribusi di hidup lu, omongan ga jelas ga usah di dengar. Tolong yang bisa di tolong dan sepadan untuk di tolong. Belajar filter orang-orang yang ada di hidup lu, kalau kebanyakan parasit lu ga akan bisa berkembang.
Sebenarnya masih banyak yang mau gw ceritain tapi jari gw pegal ngetik banyak-banyak, tapi garis besarnya seperti itu lah pandangan gw. Kalau mau cari pasangan cari lah yang bisa mikir, bisa di ajak kerjasama, dan bisa melangkah bareng. Jangan pernah coba-coba untuk adu nasib menikah dengan orang yang salah. Lihat valuenya sebagai manusia, pola pikirnya bagaimana, problem solve nya, kematangan emosinya dan bagaimana visi dan misinya, perhatikan apakah sesuai dengan apa yang dia rencakanan dan lakukan, karena semua orang bisa kalau cuma di mulut saja.
Gpp telat menikah di bandingkan bersama dengan orang yang salah, atau pisah di tengah jalan. Perhitungkan dengan matang dengan siapa lu akan berkeluarga karena itu nanti efek nya panjang, sampai ke berapa generasi ke depan. Stop Egois, jangan mikirin enaknya doang ! Stop Mokondo !


